Setelah membahas tentang penyakit hipertiroidisme pada kucing, kali ini kita akan membahas penyakit berbahaya lainnya yang berpotensi menyerang kucing peliharaan cat lovers di rumah.

Tahukah kalian bahwa ada sebuah penyakit mirip HIV yang dapat menyerang kucing? Penyakit ini mempunyai karakteristik yang sama dengan HIV, bahkan sama-sama belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Namanya adalah Feline Immunodeficiency Virus (FIV).

Apa yang dimaksud Feline Immunodeficiency Virus (FIV)?

animal-3334181_1280

Feline Immunodeficency Virus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus pada sistem imun kucing. Menurut beberapa sumber, FIV dapat menyerang semua jenis kucing juga sudah menyebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu, cat lovers perlu mengenal penyakit ini agar dapat mencegah hal-hal yang nggak diinginkan.

Sumber: https://pixabay.com/id/photos/hewan-lucu-kesayangan-kucing-3334181/#_=_

FIV dapat menyebar melalui gigitan yang menyebabkan luka pada tubuh kucing, dari induk kepada anak-anaknya, serta melalui transfusi darah. Cat lovers harus waspada terhadap serangan virus ini, karena mereka dapat menurunkan kualitas sistem imun serta akan terus hidup dalam tubuh kucing sampai kucingnya mati.

Meski begitu, FIV termasuk virus yang pergerakannya lambat. Artinya, butuh bertahun-tahun sampai ia bisa menyebabkan kucing sakit parah.

Seberapa besar penyebaran FIV di seluruh dunia saat ini?

Frekuensi infeksi dari virus ini sangat bervariasi dan tergantung populasi kucing itu sendiri. FIV cenderung lebih banyak ditemukan pada populasi kucing yang besar dan sering bertengkar untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Sebaliknya, untuk populasi kucing yang kecil dan damai, penyebarannya cenderung rendah.

Selain itu, virus ini juga banyak ditemukan pada kucing yang lebih banyak hidup di luar rumah, lalu dua kali lebih sering pada kucing betina. Menurut kesehatannya, 1-5% kucing yang sehat dapat terinfeksi FIV, sementara yang kurang sehat persentasenya meningkat sampai dengan 15-20%. FIV juga lebih banyak ditemukan pada kucing berusia 5-10 tahun.

Apa saja gejala-gejala umum penyakit FIV?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, pergerakan virus FIV di dalam tubuh kucing cenderung lambat sehingga butuh beberapa tahun sebelum akhirnya muncul gejala-gejala serius. Namun yang perlu menjadi perhatian cat lovers adalah saat gejala tersebut muncul itu berarti sistem imun kucing sudah mulai melemah sehingga kucing jadi sangat rentan terhadap penyakit apapun.

Berikut ini adalah beberapa gejala umum yang mungkin dialami oleh kucing yang terinfeksi FIV:

  1. Pembesaran kelenjar getah bening
  2. Demam
  3. Anemia
  4. Penurunan berat badan
  5. Nafsu makan menurun
  6. Diare
  7. Peradangan pada mata, gusi, dan mulut
  8. Sakit gigi
  9. Bulu rontok
  10. Banyak luka yang nggak sembuh dengan sendiinya
  11. Bersin-bersin
  12. Keluar kotoran dari mata atau hidung
  13. Lebih sering mengeluarkan urin (kencing), kesulitan mengeluarkan urin, kencing di luar tempatnya
  14. Perubahan pada kebiasaannya

Sebetulnya, nggak ada gejala spesifik yang merujuk pada penyakit FIV, daftar tersebut hanya merupakan gejala umum yang juga dapat ditemukan pada penyakit lainnya. Namun ada satu hal yang dapat menjadi patokan, yaitu adanya luka luar yang nggak bisa sembuh meski sudah mendapatkan pengobatan. Jika sudah seperti itu, lebih baik cat lovers menghubungi dokter hewan terdekat secepatnya.

Bagaimana cara FIV bekerja dalam tubuh kucing?

FIV bekerja dengan cara menginfeksi sel darah putih dalam sistem imun kucing. Virusnya melukai, mematikan, sampai merusak fungsi normal sel darah putih, Hal ini kemudian menyebabkan melemahnya sistem imun secara perlahan-lahan.

Dalam minggu pertama setelah virus menginfeksi tubuh kucing, virus tersebut akan memperbanak diri dan mulai menyebabkan gejala-gejala ringan seperti demam atau pembengkakan kelenjar getah bening. Biasanya banyak orang kesulitan menyadari gejala ringan seperti ini karena dianggap sebagai sakit biasa, kemudian membiarkannya begitu saja sampai akhirnya sistem imun secara otomatis terus merespon serangan virus sampai tingkat replikasinya rendah.

Kemudian setelah kurun waktu tertentu, replikasi virus meningkat kembali dan kucing mulai menunjukan gejala tingkat lanjut. Dalam beberapa kasus, peningkatan replikasi ini terjadi setelah 2-5 tahun setelah virus menginfeksi kucing. Kesimpulannya, semakin besar replikasi virus yang terjadi dalam tubuh kucing maka semakin besar kerusakan sistem imunnya.

Bagaimana cara mendiagnosis FIV pada kucing?

Ada beberapa test yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa FIV pada kucing, yaitu Enzime-linked Immunosorbent Assay (ELISA), western blot, Immunofluorrescence (IFA) Assays dan yang lainnya. Sebagian besar tes memerlukan pengambilan sampel darah untuk mendeteksi apakah terdapat antibodi yang melawan virus di dalam tubuh kucing. Hal ini dilakukan karena berpegang pada prinsip: virus dalam tubuh kucing nggak bisa dihilangkan begitu saja oleh sistem imun melainkan hanya “diperangi” oleh antibodi saja. Maka kesimpulannya, jika terdapat antibodi dalam darah kucing berarti ada virus yang sedang aktif di dalamnya.

Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan tes yang mempunyai akurasi 100%, setiap hasil tes harus dipelajari oleh dokter hewan untuk menentukan langkah yang perlu diambil selanutnya. Termasuk tes yang dilakukan pada anak kucing.

Anak kucing yang lahir dari induk yang positif FIV biasanya menerima antibodi melalui air susu, sehingga jika dilakukan tes pada anak kucing tersebut kemungkinan besar hasilnya adalah positif; meskipun sebenarnya anak kucingnya justru sehat wal’afiat. Maka dianjurkan untuk melakukan tes ulang setelah anak kucing berumur 5-6 bulan untuk memastikannya.

Apa pengobatan dan perawatan yang bisa dilakukan pada kucing yang positif FIV?

Mayoritas kucing yang dinyatakan positif mengidap FIV dapat hidup normal seperti kucing sehat pada umumnya. Hal ini terjadi karena berbagai macam faktor seperti tipe virus yang menginfeksi tubuh kucing, respon sistem imun, dan faktor-faktor yang lainnya. Dalam sebuah studi dinyatakan bahwa kucing yang positif FIV juga dapat bertahan selama 5-6 tahun. Maka, dapat disimpulkan sampai sekarang belum ada pengobatan spesifik yang dapat menghilangkan virus dari tubuh kucing.

Sebagian besar pengobatan hanya bertujuan untuk memperpanjang periode asymptomatic, atau jika gejala sudah muncul, pengobatan hanya untuk meringankan efek yang dapat muncul di kemudian hari.

Selain itu, pengaturan infeksi FIV juga perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut pada kucing lainnya, serta untuk mempertahankan kualitas hidup baik pada kucing yang positif mengidap FIV.

Jika kemudian suatu hari kucing cat lovers dinyatakan positif FIV, maka ada beberapa pengobatan dan perawatan yang dapat cat lovers lakukan:

  1. Pengobatan untuk infeksi tahap lanjut
  2. Diet yang sehat dan tepat untuk menyediakan nutrisi yang baik
  3. Terapi penggantian cairan dan elektrolit
  4. Obat anti-radang
  5. Obat untuk meningkatkan imun
  6. Pengontrolan pada parasit dalam tubuh kucing
  7. Membatasi kucing yang positif FIV untuk hidup di dalam rumah semaksimal mungkin demi menghindarkan mereka dari kucing yang nggak terinfeksi.
  8. Hindari memberikan daging mentah, telur mentah dan susu basi
  9. Melakukan cek rutin setahun dua kali

Sebagai penutup artikel kali ini, kami menyarankan cat lovers untuk tetap merawat kucing dengan sebaik mungkin termasuk memperhatikan perilaku dan lingkungannya, mengingat sulitnya mendeteksi keberadaan virus ini serta belum tersedianya vaksin FIV di Indonesia.

Pencegahan, sampai kapanpun, lebih baik daripada pengobatan.

sumber:

https://icatcare.org/advice/feline-immunodeficiency-virus-fiv/

https://www.vet.cornell.edu/departments-centers-and-institutes/cornell-feline-health-center/health-information/feline-health-topics/feline-immunodeficiency-virus

https://pets.webmd.com/cats/cat-fiv-feline-immunodeficiency-virus#1

Follow us:
Feline Immunodeficiency Virus (FIV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright @pakanmaster.com 2020